Minggu, 02 Juni 2013

Keistimewaan Ulul Albab

Sudah merupakan pengetahuan umum dan baku dikalangan muslim bahwa manusia menurut Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya makhluk, yang menempati derajat tertinggi dihadapan Allah subhanahu wa ta'ala.
Sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat at-Tiin ayat 4;

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk  yang sebaik-baiknya.”

Namun dalam rangkaian firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam Al-Qur’an, manusia bisa saja menurun derajatnya menjadi serendah-rendahnya makhluk. Bahkan lebih hina daripada binatang ternak. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak diperguna-kannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seumpama binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)

Ayat diatas adalah sebuah perumpamaan atau perbandin-gan manusia dengan binatang.

Salah satu metodologi Al-Qur’an untuk memanusiakan manusia (insanihyatul insan) atau membebaskan manusia dari sifat binatang dalam diri manusia adalah memberikan perumpamaan atau perbandingan. Sehinggga dalam kehidupan yang singkat ini, manusia dapat berpacu menjadi manusia ideal.

Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir nya Ada 1000 ayat Al-Qur’an yang berbicara soal perumpamaan dan tamsilan.Diantaranya menerangkan bahwa ada kesamaan di antara manusia dan binatang dari segi nafsu, hawa nafsu dapat menyeret manusia kedalam sifat binatang.

Lantas bagaimana cara untuk menjadi manusia ideal? Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 190-191:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan  silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab (orang-orang yang berakal), yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”

Dengan kata lain orang yangmenggunakan hati  untuk berdzikir dan menggunakan akal untuk berfikir sehingga mencapai kecerdasan hati, cerdas spiritual dan meraih kecerdasan akal itulah Ulul albab atau manusia ideal yang didambakan Al-Qur’an. Untuk lebih memahami lebih mendalam apa itu Ulul Albab ada lapisan atau tingka-tan-tingkatan untuk mencapai Ulul Albab.

Dalam terminologi  tasawuf, mengenal istilah Shadr, Qalb, Fu’ad, Dan Lubb atau Ulul Albab. Keempatnya adalah lingkaran stasiun berlapis bertingkat sebagai suatu kesatuan yang utuh. Tiap-tiap stasiun mewadahi cahaya sendiri dan dijadikan beberapa tingkat hati. Hati yang paling luar adalah shadr (dada), lebih dekat hubungannya dengan otak, mewadahai cahaya Islam (praktek ibadah dan amal shaleh). Ia adalah inti dari tindakan yaitu mengikuti perintah otak. Sebagai bagian terluar, seperti halnya rumah, tidak terbebas dari aman, bersih dan kenyamanan, selalu  saja ada gangguan.

Melalui tingkatan inilah tempat masuk dan keluarnya kebaikan dan keburukan. Ia akan datang dan pergi. Dengan demikian tidaklah cukup kalau hanya mengandalkan shadr.

Kemudian lapisan kedua adalah Qalb, yaitu tempat pengetahuan yang lebih mendalam dan keimanan terhadap ajaran spiritual dan keagamaan yang murni. Disinilah letaknya cahaya iman, ia juga tempat kesadaran kita akan kehadiran Tuhan, sebuah kesadaran yang mengarahkan kita pada transfer pemikiran dan tindakan. namun keimanan dalam hati (Qalb) kadang bisa saja meningkat dan bisa
saja melemah.

Maka disinilah pentingnya Fu’ad sebagai lapisan ketiga. Fu’ad sebagai hati lebih dalam mewadahi cahaya makrifat atau pengetahuan akan kebenaran spiritual. Seakan merasakan kehadiran Tuhan dengan sangat jelas, seakan-akan kita melihat Allah subhanahu wa ta'ala berada dihadapan kita. Seperti halnya orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan inti dari lapisan itu adalah Lubb atau ulul albab.

Ada sekitar 16 ayat Al-Qur’an yang memuat kata Ulul  Albab. Ulul merupakan bentuk kata untuk menunjukan kepunyaan atau kepemilikan. Albab adalah bentuk jamak  dari Lubb, yang bermakna inti, isi, sari, terpenting Lubab adalah intisari  dari segala sesuatu, murni bersih. Definisi ini  di ra-sionalisasikan dengan umpama bahwa ketika kita akan  memakan buah kelapa, kita  membuang, mengeluarkan atau mengupas bagian luarnya. Sehingga isi kelapa atau isi buahnya terambil. Isi kelapa tersebut dinamakan Lubb. Jadi Lubb terkandung makna aktif. Mengeluarkan isi, bagian dalam dari sesuatu. Bisa juga bermakna dinamis. Menyaring atau memilik dari sesuatu hal. Lubb terkandung makna aflikatif progress. Membuang sesuatu yang tidak bermanfaat  dan mengambil hal yang berfaedah. Sehingga pemikiran kita jernih yang terbebas dari kekeliruan atau kecacatan dalam berpikir.

Pemikiran jenis inilah yang mampu menyingkap rahasia-rahasia  dan  hikmah  dibalik  hukum yang diturunkan Allah. Berpikir murni inilah yang melatarbelakangi firman Allah (QS. Al-baqarah: 269) mengaitkan kata hikmah dengan Ulul Albab;

Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Ba-rangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Berangkat dari pengertian bahwa Lubb merupak-an saripati sesuatu, semisal  kacang yang memiliki kulit  yang menutupi isinya. Isi kacang dinamai Lubb. Jadi Ulul Albab ialah orang-orang yang memiliki akal murni yang tidak di se-lubungi oleh “kulit”, yakni kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan  dalam berpikir.

Keistimewaan-keistimewaan Ulul Albab melingkar dalam dan memiliki hikmah, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Seiring dengan itu, Prof. Wahbah Zuhaili memaknai Ulul  Albab dengan Ashab al-’Uqul (komunitas orang-orang cerdas). Simpelnya orang yang melakukan perubahan terhadap dirinya sehingga dari individu-individu tersebut memberikan perubahan terhadap lingkungannya (agent social of change) dengan bursa gagasan yang cerdas, analitis dan normatif. Jika hidup kita dilandasi dengan Ulul Albab, insyaAllah akan senantiasa  melakukan  perubahan  di tengah-tengah masyarakat. Mengembalikan dari kegela-pan menuju cahaya (min al-Dzulumat ila al-Nur), dari kritis ke normal, dari labil ke stabil, itulah makna perubahan.

Ulul Albab adalah tempat Tuhid dan peng-Esaan. Ia adalah cahaya yang paling sempurna dan penguasa yang paling agung. Ia berada diluar kata-kata, teori-teori, dan pemikiran-pemikiran. Ia tak terhingga. Dari Lubb inilah terpancar cahaya ke-baikan dan kebajikan yang kemudian ditransformasikan melaui lapisan-lapisan lain diatasnya. Apabila sudah sampai tingkat Ulul Albab, maka akan Allah  bukakan hijab di antara kita dengan-Nya dan kita akan menemukan sirul asrar, rahasia dibalik rahasia.(am)

Penulis: Abdul Malik el-Hamidy (Wakil Sekretaris PW. PERSIS Provinsi Riau)